Monday, April 20, 2026

Kita Semua Kenal Tante Yuli

*Disclaimer! tulisan ini dibuat tentu saja bukan dengan maksud menyudutkan siapa pun yang bernama Yuli. Kesamaan nama dan peristiwa adalah ketidaksengajaan. Kecuali yang baca adalah Tante Yuli yang saya maksudkan.


Film Tunggu Aku Sukses Nanti menjadi salah satu sleeper hits di Indonesia dengan jalan cerita dan karakter yang sangat relatable. Dari sekian banyak tokohnya, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tokoh Tante Yuli yang diperankan oleh Sarah Sechan. Tante Yuli ini sosok yang sangat membumi. Alias ada di segala penjuru bumi. Seperti Karen di USA. Mau tahu dan tak segan ikut campur urusan hidup orang lain.

Saya yakin, dalam hidup kita kebanyakan pasti pernah bertemu minimal satu orang Tante Yuli. Bahkan semisal kita sendiri sadar atau tidak sadar mengambil peran Tante Yuli di kehidupan ini, pasti pernah ketemu Tante Yuli lain yang kelakuannya setara atau lebih menyebalkan. 

Ingat magnet dengan kutub yang sama biasanya saling tolak menolak.
Jadi kalau kita sebal sama seseorang siapa tau kita juga semenyebalkan itu.

Tidak seperti tokoh Arga (Ardit Erwandha), di film Tunggu Aku Sukses Nanti, saya sendiri sebetulnya bukan gambaran yang tepat sebagai target Tante Yuli. Hidup saya, sampai sekarang, alhamdulillah selalu sesuai dengan milestone standar masyarakat. Urusan jodoh, akademik, dan karir berjalan lurus dan biasa-biasa saja. Jadi saya sebetulnya tidak terlalu sering ketemu sosok Tante Yuli di kehidupan.

Hanya saja gara-gara Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Cerita Random, saya jadi ingat beberapa pertemuan saya dengan tante Yuli yang masih saya ingat sampai sekarang.

Saya kasih rating berdasarkan level damage-nya (💣). Karena momen dengan Tante Yuli, seperti level pedas Ma Icih, tak selalu bisa disamaratakan.

Rangking berapa? (💣)

Sebagai anak 90-an, rangking masih menjadi bagian kehidupan saya. Sesungguhnya saya seringkali menganggap, untuk orang zaman dulu (dan di Drama Korea) ranking menentukan kasta dan persepsi orang terhadap keluarga.

Keluarga yang anaknya masuk sekolah top dan punya ranking dianggap lebih terhormat daripada keluarga yang akademiknya biasa-biasa saja.

Bahkan ketika di SMA saya dapat ranking 5.6, dimana sebenarnya saya ada di urutan 30 dari 50 orang karena masing-masing ranking ada 6 orang, saya tetap dianggap lebih baik dari anak-anak lainnya yang di rapotnya tidak ada tulisan ranking.

Seorang tante jauh menganggap ranking adalah segalanya. Anaknya kebetulan satu usia dengan saya. Saya dan anaknya sih tentu saja tidak saingan. Orang satu kota juga nggak. Kalau kata statistik populasinya beda. Seperti membandingkan ikan air tawar dan ikan air laut. Lagian saingan rangking ini buat apa sih?

Tapi ibu anak ini tentu saja tak sependapat soal populasi. Bahkan sepertinya menentukan mood-nya saat bertemu kami berdasarkan ranking yang anaknya dan saya peroleh semester itu. Saking seriusnya ini tante soal ranking, kalau kami ketemu hal pertama yang ditanyakan pada saya adalah: "Ranking berapa?".

Kalau ranking saya lebih rendah dari anaknya, dia akan sumringah dan jadi super ramah. Sementara kalau lebih tinggi, dia akan menjelaskan panjang lebar prestasi-prestasi anaknya yang lain serta kenapa rankingnya tidak tinggi.

Suatu hari, kami sekeluarga bertandang ke rumah keluarga ini yang lokasinya di selatan pulau jawa. Baru juga mobil kami selesai parkir dan saya membuka pintu, tante ini sudah langsung melontarkan pertanyaan andalannya.

"Rangking berapa?", tanyanya.

"Tiga...", jawab saya.

"Oh kalau A ranking 1", ujarnya bangga dengan senyum merekah.

"Satu sekolah apa kelas? aku ranking tiga satu sekolah sih tante...dari 14 kelas. Kalau kelas aku doang sih ya biasalah...ranking 1", timpalku manis tanpa memedulikan Ibu yang menyikut pinggangku menyuruh diam.

Satelahnya saya sempat mendengar tante itu menelepon guru di sekolah anaknya untuk tau rangking anaknya di satu sekolah. Tapi mengingat selama dua hari menginap di rumahnya, si tante tidak mau bicara dengan saya, sepertinya ranking anaknya di sekolah tak sementereng harapannya.

Gembrot (💣💣💣💣)

Salah satu jenis pertemuan dengan Tante Yuli yang paling saya tidak suka adalah yang mengomentari fisik dari detik pertama berjumpa. Seperti tidak ada obrolan lain saja. Parahnya tak jarang Tante Yuli tipe begini wujudnya pria.

Paling saya ingat adalah perjumpaan saya dengan seorang Om kenalan keluarga. Kala itu saya baru menikah dan menemani suami dinas ke pulau seberang. Dengan itikad baik kami berkunjung ke rumahnya.

Hal pertama yang Om itu katakan ke saya adalah betapa gembrotnya saya. Yes, pakai istilah gembrot. Selama 1 jam di rumahnya, itu saja yang diulang-ulang. Nggak ada cerita lain. Semua obrolan mengarah ke istilah gembrot. Bahkan yang basa basi seperti "Sudah makan apa disini?", berlanjut ke "Kamu sukanya makan apa sib kok bisa gembrot". Semacam itulah.

Walaupun saya memang gembrot, tapi diingatkan kalau saya gembrot saat sedang namu itu bikin ngamuk sih. Walaupun tentu saja demi kesopanan, tidak saya lakukan. Saya kan juga nggak mau sampai ada headline "Seorang Wanita Melakukan Penganiayaan Terhadap Kerabatnya Karena Disebut Gembrot".

Omongan si Om sampai terngiang-ngiang di telinga. Bahkan lama setelah saya tak pernah lagi bertemu dengannya. Seperti gema di tebing yang pantul memantul. Terdengar sampai ke negeri cina. Saya yakin bahkan Chu Pat Kai pun akan tersinggung mendengarnya.

Suruh Siapa Punya Anak?! (💣💣💣💣💣)

Di usia 5 tahun pernikahan, kami baru dikaruniai anak. Cuma untungnya selama 5 tahun itu sebagian besarnya kami habiskan dengan tinggal jauh dari tanah air. Plus saat itu saya dan suami masih tidak begitu concern dengan masalah anak. Masih asyik sendiri berdua. Jadi kami tidak begitu dipusingkan dengan pertanyaan-pertayaan "Kapan mau punya anak?".

Meskipun demikian selentingan-selentingan yang membuat jengah tetaplah ada. Lewat ucapan-ucapan doa di berbagai kesempatan, atau berbagai kiriman ramuan-ramuan yang dianggap manjur untuk program kehamilan, juga kasak kusuk Ibu dan Mertua membicarakan biaya IVF.

Intinya saat itu orang lain lebih semangat untuk kami punya anak daripada kami sendiri.

Suatu hari, beberapa tahun kemudian, saat sudah ada Mbarep dan Ragil, seorang sesepuh perempuan dengan hubungan kekerabatan yang cukup dekat, menginap di rumah mertua yang kami tinggali. Sesepuh ini adalah salah satu orang yang sebelumnya suka meributkan kami yang belum punya anak.

Dia juga yang sering memberikan nasihat-nasihat tanpa diminta ke mertua tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh saya dan suami supaya cepat dapat anak.

Anak-anaknya sendiri sangat diberkati perkara punya anak. Subur-subur banget. Sekali towel pada hamil. Jadi sepertinya dia merasa berpengalaman untuk memberikan masukan.

Kala si tamu menginap saat itu, Mbarep masih usia 3 tahun dan Ragil 6 bulan. Kombo balita dan bayi dengan segala gebrakannya.

Apalagi saat itu masih awal pandemi dimana tingkat stress saya tinggi sekali. Disenggol dikit ngamuk. Mungkin campuran hormon post partum yang masih bergejolak dan tekanan untuk beradaptasi dengan kehidupan yang berubah 180 derajat.

Di hari kedua si tamu menginap, Ragil rewel luar biasa. Segala macam hal yang kami lakukan tidak bisa menenangkannya. Mbarep ikutan rewel karena ingin juga mendapatkan perhatian dari saya. Dengan dua anak menjerit jerit tanpa juntrungan, saya merasa seperti ada di titik terbawah kehidupan.

Si tamu kebetulan sempat pergi dengan kedua mertua saya dan ketika mereka pulang situasi di rumah sedang panas-panasnya. Melihat kekacauan itu sepertinya si Tamu tergerak untuk membantu:  Bagaimanapun dia sendiri sudah punya 6 cucu. Pengalaman lah ya.

Si tamu meminta Ragil dari saya lalu menggendong berusaha menenangkannya. Masalahnya sambil gendong-gendong tiba-tiba dia nyeletuk:

Suruh siapa punya anak ya…?!!Emang enak punya anak ya…?? Repot kan…repot yaa".

Pakai nada ning nang ning gung. Cobain deh, ngeselin abis. Haha.

Mungkin maksudnya sedikit menceriakan suasana karena kedua mertua saya tertawa mendengarnya. Tapi dengan segala kelelahan yang saya rasakan, saya tidak melihat dimana lucunya.

Suami, yang sedang menenangkan Mbarep, tidak cukup cepat bereaksi dan hanya menatap ngeri melihat saya murka. Seperti kesetanan saya menjawab: 

"Siapa yang nyuruh punya anak?! KALIAN SEMUA YANG NYURUH PUNYA ANAK! Emang enak punya anak?! NGGAK ENAK!!MAKANYA NGGAK USAH RIBUT NYURUH ORANG PUNYA ANAK, KALAU CUMA BISA KOMENTAR DOANG!!!"

Keheningan yang mencekam mengikuti teriakan saya. Bahkan Mbarep pun menghentikan tangisannya karena kaget.

Adegan selanjutnya lebih dramatis. Saya rebut Ragil dari tamu itu lalu masuk kamar sambil membanting pintu. Menjatuhkan kami berdua ke tempat tidur dan menangis sejadi jadinya. Ibu dan anak jerit jerit berdua. Untungnya setelah itu saya dari Ragil kelelahan dan malah bisa tidur berjam-jam.

Wes edan kalau kata saya. Untung saya nggak berubah jadi batu setelahnya. Karena durhaka sama orang yang jauh lebih tua.

Antivaks ya? (💣💣💣)

Ini pengalaman paling absurd selama saya berinteraksi dengan spesies Tante Yuli. Jadi ceritanya ada saudara jauh seorang gen Z yang sering bertemu saat acara-acara keluarga. Anak saya yang kedua kebetulan seumuran dengan anaknya yang pertama.

Perbedaan generasi diantara kami memang terlihat mencolok dalam hal membesarkan anak, terutama terkait referensi parenting. Referensi saya dan suami lebih banyak dari pengalaman pribadi dengan trial and error. Sementara referensi saudara saya ini dan suaminya sepertinya lebih banyak dari sosial media dengan segala check list-nya.

Bukan hal yang buruk tentu saja. Karena saya penganut mazhab "cara membesarkan anak adalah pilihan masing-masing orang tua".

Suatu hari, waktu anak-anak kami masih kecil, saya pernah mengobrol dengan saudara saya ini. Ngobrol ngalor ngidul, sampailah pada bahasan mengenai vaksin. Tanpa tedeng aling-aling, tiba-tiba dia menceramahi saya soal vaksin.

Emang nggak kasihan nanti anaknya kena penyakit berat? Percayalah, lebih banyak benefitnya daripada mudaratnya.”, katanya dengan khusyuk.

Setelah mendengar ceramah 5 menit yang bagaikan mendengarkan orang membacakan reels dokter di instagram, saya jadi penasaran sebab dan musabab ceramah ini apa.

Memang siapa sih yang nggak mau vaksin?”, kata saya kebingungan. Saudara saya ini menatap saya.

Kakak lahh. Kakak kan antivaks”, katanya dengan prihatin.

Aku? Lah, kenapa aku antivaks? Anak aku vaksin lengkap kali, yang nggak mandatory juga aku kasih.”, kata saya.

Emang iya? Sesuai IDAI?”, kata saudara saya ini skeptis.

"Ya iyalah, mau sesuai apalagi? Primbon jawa?”, kata saya mulai kesal. Saudara saya ini masih memandang saya dengan curiga. Seakan-akan saya bohong.

Kenapa bisa menyimpulkan aku antivaks?”, tanya saya masih heran.

Oh…eng anu…soalnya kakak nggak pernah cerita-cerita kalau anaknya vaksin. Nggak pernah posting juga...”. kata saudara saya ini dengan ragu-ragu.

Gimana??! Kalau nggak pernah cerita artinya antivaks? Terus harus posting dimana emang sebagai tanda pro vaksin?!!”, kata saya mulai pusing sambil menahan keinginan untuk salto kedepan kebelakang.

Untung saya lahir Jumat Wage. Masih bisa sabar. Gusti!

D1 kan? (💣💣)

Di atas langit masih ada langit sepertinya tidak berlaku untuk Tante Yuli di cerita saya kali ini.

Seorang tetangga di kampung halaman saya, sangat bangga pada anaknya yang bekerja di sebuah instansi pemerintahan pusat Jakarta. Maklum, untuk bisa bekerja di dalamnya seseorang harus terlebih dulu lulus dari sekolah kedinasan khusus yang terkenal dengan persaingan masuk yang ketat.

Saya tentu saja tidak mempermasalahkan kebanggaan tetangga tersebut terhadap anaknya. Namanya orang tua, wajar dong bangga sama buah hatinya.

Masalahnya si tetangga ini menganggap orang lain tidak bisa menyamai prestasi anaknya. Kalaupun ada yang bekerja di instansi yang sama, si tetangga selalu merasa anaknya lebih tinggi jabatannya, lebih pintar, lebih hebat.

Padahal secara logika, kecuali si anak ini adalah pimpinan tertinggi, ada ratusan skenario seseorang punya posisi diatas anaknya.

Suatu hari, ketika pulang kampung, saya bertemu dengan tetangga saya ini. Pertemuan semenjana tersebut tentu saja jadi ajang basa basi.

Sepupu suami saya kebetulan kerja di instansi yang sama dengan anak si ibu tetangga. Kalau saya tidak salah ingat, unitnya bahkan sama.

Karena sedang basa basi, saya tentu saja menyampaikan topik yang bisa menyambung obrolan. Termasuk tentang sepupu suami.

Sepupu suami aku juga kerja di X. Kalau nggak salah unitnya Y deh. B kenal nggak ya kira-kira?”, tanya saya.

Hmmm, B juga di Y sih, mungkin sepupunya D1. Nggak kenal kayaknya.”, kata tetangga saya sok tau.

Ooh dia lagi dikirim S2 sih malah tante, lagi di Edinburg sekarang. Nggak kenal kali ya..”, kata saya lagi sambil bingung kenapa ngejudge-nya jauh banget ke D1.

Salah kayaknya, lagi D3 kali. Soalnya setahu tante yang dikirim sekolah lagi cuma B yang ambil S1”, jawab si tetangga penuh percaya diri.

Saya terdiam. Jangan-jangan saya memang berhalusinasi.

Saat itu B yang kebetulan juga sedang pulang kampung menghampiri kami. Saya tanyakan dong tentang sepupu suami saya, yang langsung dijawab B: 

Mas G? Oh ya aku tau dia sih, tapi mungkin dia nggak kenal aku. Maklum dia sudah eselon 2, aku kan masih kroco. Lagi S2 kan ya? Di luar negeri lagi. Hebat dia memang pinter orangnya.”, cerocos B menanggapi saya.

Saya pura-pura tidak melihat si tante tetangga yang mukanya berubah pucat. Sepertinya baru tersadar, di atas langit memang masih ada langit lagi. Bahkan ketika anaknya sudah mencapai langit yang tak pernah bisa dia bayangkan.

***
Nah, sekian cerita-cerita tentang Tanta Yuli yang pernah saya temui. Ada yang mau cerita versinya sendiri? 


Read more ...

Monday, March 16, 2026

Humor yang Berevolusi

Dulu saya lucu. 
Paling nggak kalau lihat tulisan blog saya dulu, saya lucu. Bahkan tulisan reflektif pun lumayan lucu.

Malah sempat ada masanya saya punya beberapa pembaca setia yang hobi baca blog saya karena mereka menganggap tulisan saya menghibur.

Itulah mengapa salah satu penyesalan saya adalah kenapa dulu nggak diseriusin nulis yang lucu. Padahal mungkin ada kesempatan jadi kayak Raditya Dika. Ya kan mana tau kalau dulu serius dan sukses sekarang saya sudah mencapai financial freedom juga.

Menyesal karena tidak serius untuk lucu.

Eh tapi beneran loh, 20 tahun lalu saya bisa melihat kelucuan dari berbagai kejadian. Padahal kejadiannya sendiri nggak lucu.

Misalnya nih waktu saya naik pesawat yang gagal take off. Apa coba yang lucu dari pesawat yang batal terbang padahal separuh badannya sudah naik? Kalau pilotnya nggak eling dan ngotot terbang mungkin saya hanya tinggal potongan berita di surat kabar.

Cuma waktu itu saya mikir kejadian tersebut lucu karena di sebelah saya ada bule yang kakinya bau. Jenis bau yang saking semerbaknya membuat kita mempertanyakan kewarasan kita sendiri.

Karena pesawat batal take off dan harus diganti, saya batal sebelahan sama dia selama 4 jam penerbangan. Lucu kan?

Pesawat baling-baling yang gagal terbang. Rute Ujung Pandang - Jayapura.


Ada lagi pengalaman saya 14 jam naik kapal ke Talaud di tengah purnama Ramadan. Gravitasi bulan membuat gelombang laut nggak ada santai santainya. Sepanjang perjalanan perahu bagai dibanting-banting. Airnya memercik membanjiri seluruh lantai kapal yang terbuka.

Nggak ada tuh romantis-romantisnya naik kapal malam itu, padahal purnama benderang di atasnya dan dunia di bawah permukaan lautnya adalah salah satu yang tercantik di dunia.

Tangkapan kamera laut Sulawesi malam itu

Malam itu, semua penumpang muntah. Kecuali saya dan 2 teman saya. Padahal kami orang daratan. Dimana satu-satunya pengalaman naik kapal pontang panting hanya di Kora-Kora Dufan. Ada untungnya sih pergi saat puasa. Perut hampir kosong, karena waktu buka juga nggak selera.

Plus nahan minum biar nggak buang air kecil. Males ke kamar mandinya.

Jadi mau muntah juga nggak bisa.

Ngenesnya, waktu mau sahur, ternyata burger Mc Donalds dan kentang yang kami beli basi. Seumur umur baru sekali saya ngalamin makanan cepat saji basi padahal belum ada 12 jam dibeli. Jadi burger Mc Donalds itu asli sodara-sodara, tidak seperti klaim yang bilang kalau saking banyak pengawetnya sampe bertahun-tahun juga nggak basi.

Atau udara laut Sulawesi sedemikian dahsyatnya sampai pengawet pun kalah? Atau burgernya ikut mabok laut? Entahlah.

Pokoknya gara-gara itu saya dan teman-teman nggak makan minum sama sekali lebih dari 24 jam. Hanya nelen obat anti mabok saja dengan harapan sisa perjalanan berjalan lancar.

Nekad tetap puasa.

Dulu waktu kejadian rasanya entah kenapa lucu sekali.

Saya dan teman seperjalanan tertawa sampai berlinang air mata membahasnya. Menertawakan kondisi yang ada dan pengalaman yang baru saja terlewati tanpa kurang suatu apa. Tentu saja tertawanya setelah kami semua sudah aman di daratan. Sudah makan kenyang dan bisa kembali berpikir jernih. 

Tapi setelah saya pikir-pikir sekarang, apa yang lucu coba dari pengalaman itu? Apalagi saat itu untuk pertama kalinya saya merasakan dehidrasi sampai beneran nggak bisa mikir. Temen saya bahkan sampai nggak bisa buka kunci pintu kamar di penginapan saking linglungnya. Untung nggak ada yang sampai masuk IGD.

Dulu saya nggak menuliskan pengalaman ngenesnya di blog sih, takut Ibu saya baca lalu prihatin dan sedih dengan kenekadan dan kebodohan anaknya. 

Soalnya saya sendiri sudah kebayang kalau yang cerita anak saya mungkin saya sudah ngomel panjang kali lebar kali tinggi: NGGAK USAH ANEH ANEH! KENAPA NGGAK BATALIN AJA PUASANYA?!! MAU MATI KAU?!!

Nah terlepas dari tingkat kelucuan hal yang terjadi, dulu tuh rasanya selalu ada sisi lucu dari setiap hal yang saya alami. Sekarang, walaupun hidup saya lebih lucu, tapi saya malah jadi jarang menemukan sisi lucunya.

Pertanyaannya kenapa? Kenapa sekarang kalau menghadapi kejadian lucu saya malah seringnya merasa miris?

Misalnya waktu ada mahasiswa datang ke Tata Usaha mencari helmnya yang hilang. Saat ditanya merk helmnya apa, dia bilang harus nanya Ibunya dulu karena yang beli ibunya di Shopee. 

Lawak nggak sih, anak cowok umur 20 tahun, badan tinggi besar, pakai kalung gelang rantai, sangar (not to mention so called salah satu putra putri terbaik bangsa) tapi nggak tau merk helmnya karena ibunya yang beliin di Shopee?

Tapi boro-boro menuliskan kelucuan kejadian itu, yang ada malah mengelus dada sambil bertanya-tanya "Kok bisa?" (padahal emang males nulis aja 🤪)

Kecurigaan saya, humor saya memang berkurang seiring umur karena memang begitulah wajarnya. Ya kalau lihat sekeliling, orang makin tua memang cenderung makin nggak lucu nggak sih?

Kecuali Tukul mungkin.

Tapi kan beliau juga sakit sekarang, jadi kayaknya sudah nggak sering ngelucu juga.

Atau mungkin saya sudah nggak bisa mikir lucu karena saya sudah jadi lebih bijaksana? #Ngarep 

Menilik tulisan-tulisan blog saya akhir-akhir ini serius-serius banget dah. Lebih serius dari Menteri Keuangan Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil. Padahal kan harusnya mereka yang lebih serius menghadapi ancaman kondisi geopolitik global. Kenapa malah saya yang jadi serius sementara mereka masih suka ngelawak? 

Gojeg-gojeg istilah Jawanya.

Lalu saya tanya AI (kan saya orang modern jadi nanya AI bukan rumput yang bergoyang): “Kenapa humor cenderung menurun seiring bertambahnya usia?”: Ini ringkasan jawabannya:

Ternyata ada penjelasannya saudara-saudara! Intinya orang semakin tua kebanyakan semakin nggak lucu lagi karena memang hidup membuat kita jadi lebih serius.

Evolusi humor seiring bertambahnya usia juga hal yang menarik.

Jadi sisi lucu saya tidak hilang, hanya berevolusi menjadi sesuatu yang lebih…
tidak relatable garing…

Ya layaknya om-om tante-tante paruh baya pada umumnya gitu.

Tipe yang kalau melontarkan candaan, gen Z di sekitar ikut tertawa untuk kesopanan belaka. Sementara gen Alpha langsung bilang seadanya: “Apaan sih? Nggak lucu!”.

Dah lah..masih mending garing dari girang kan 🫠

Seperti peribahasa : Semakin berisi semakin merunduk.

Nggak nyambung ya? Biarin aja, biar lucu.

Permisi! Mau merayakan keberhasilan nggak jadi deadliners tengah malam untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini.

Minal aidzin wal faidzin!



Read more ...

Wednesday, February 25, 2026

Regulo 70

Rumah Biasa Hanya Ada Tapinya

Sungguh aneh ketika suatu tempat yang tidak pernah saya tinggali secara permanen ternyata menyimpan cukup banyak porsi ingatan inti di kepala saya.

Kalau ini film Inside Out, maka salah satu pulau ingatan masih berdiri kokoh ditopang dengan berbagai kenangan akan tempat tersebut. Bahkan ketika sudah lewat dari 20 tahun, saya tak lagi merasakan kehangatannya.

Regulo 70 Boyolali itulah alamatnya. Rumah sederhana di daerah permukiman yang berada di tengah Kota Boyolali.

Berada di posisi hook, kedua jalan yang mengapitnya mengarah ke alun-alun dan pasar. Jantung dari kabupaten yang semenjak dulu terkenal sebagai penghasil susu sapi murni.

30 tahun lalu saya memaknai rumah itu sebagai tempat berkumpul. Keluarga besar ayah saya yang terdiri atas 8 orang kakak-beradik tidak pernah melewatkan kesempatan untuk anjang sana, terutama saat hari raya.

Baru sekarang setelah dewasa saya paham. Kehebatan Eyang yang tak perlu susah payah menyuruh anak-anaknya pulang. Tanpa diminta, tanpa drama, mereka pulang sendiri. Suatu berkah yang konon sulit didapatkan orang tua lain di masa sekarang.

Padahal Eyang saya bukan orang yang keibuan. Galak dan tegas lebih tepat. Punya prinsip yang setegak deretan pohon kelapa di halaman rumahnya.

Tipe yang menunjukkan kasih sayang dengan memasak selama 7 hari 7 malam demi mempersiapkan jamuan untuk anak cucu dan handai taulan. Daripada memberikan peluk cium dan bermain dengan cucu-cucunya.

Momen berkumpul tentu saja tidak selalu menjadi momen bahagia. Kadang diselingi perselisihan antarsaudara atau konflik antarsepupu. Tapi semua kebersamaan tersebut membuat standar kumpul keluarga saya menjadi sangat tinggi.

Main kembang api bersama di halaman yang luas, tidur di satu ruangan panjang dengan kasur berjejer yang kami sebut asrama haji, rebutan saweran yang makin lama makin banyak donaturnya dan makin sedikit penerimanya karena satu per satu cucu juga mulai bekerja.

Makan di pemancingan Pengging, berenang di sungai Tlatar, beli susu sapi langsung di Koperasi Susu Pusat Boyolali, dan makan sambel tumpang yang sampai sekarang dijadikan tes untuk penerimaan cucu mantu 😆

Ada juga momen menemani eyang belanja ke pasar Sunggingan. Karena rumah keluarga kami paling dekat dari Boyolali, maka seringkali kami datang duluan. Belanjaan Eyang menjelang lebaran bisa mencapai puluhan kilo. Maklum anak mantu cucu kala itu jumlahnya saja bisa sampai 30.

Tak heran kalau saat Lebaran, dapur Eyang, yang letaknya terpisah dari rumah utama, dan luasnya dua kali rumah subsidi, sudah seperti dapur hajatan. Dengan Eyang memimpin barisan mbok-mbok memasak.   

Berbagai hal yang menjadi ingatan inti yang masih sering saya bicarakan dengan sepupu-sepupu saya hingga sekarang. 25 tahun setelah Eyang meninggal, acara kumpul-kumpul di Boyolali memang hanya tinggal kenangan. 

Ketika dewasa, saya sadar ada beberapa hal dari pengalaman masa kecil saya yang memengaruhi hidup saya hingga saat ini. Ini saya ceritakan beberapa: 

Wawasan yang Luas

Sebagai cucu dari anak ke-6, secara usia posisi saya ada di tengah-tengah. Saya punya sepupu-sepupu yang 10 tahun lebih tua dan sepupu-sepupu yang 10 tahun lebih muda.

Sepupu-sepupu saya yang lebih tua tentu saja sudah lebih dulu menjalani kehidupan nyata daripada saya. Untungnya, mereka tidak pelit berbagi cerita tentang pengalaman mereka.

Dari sanalah saya jadi banyak tahu tentang kehidupan “orang besar” sebelum saya benar-benar harus memasukinya. Tentang cerita kerja di korporasi, tinggal di luar negeri, kuliah di universitas yang bergengsi, dan banyak anekdot-anekdot lainnya.

Dari sepupu-sepupu saya ini jugalah saya tahu tentang kehidupan “anak kota besar”. Tentang berbagai permainan dan bacaan yang sudah terkenal di Jakarta dan Bandung, tapi waktu itu belum umum di Semarang, seperti UNO dan Harry Potter.

Ada masanya di suatu Lebaran kami menghabiskan waktu berhari-hari seharian main UNO. Juga saya yang menenggelamkan diri membaca Harry Potter bahasa Inggris walaupun dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas.

Dari pengalaman ini saya jadi tahu ada dunia lain di luar sana dan jadi terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka. Walaupun pada akhirnya takdir kehidupan membawa kami ke arah yang berbeda-beda dan tentu saja kehidupan tak pernah benar-benar persis seperti yang diceritakan sepupu-sepupu saya.

Sekarang kalau ketemu, obrolannya jelas sudah jauh berbeda dari zaman dulu kala. Terakhir kumpul, obrolannya tentang berbagai keluhan kesehatan yang mulai diderita: encok, goyoken, darah tinggi dan sebagainya.

Makin hari memang semuanya semakin menua.

Hubungan Antar Saudara

Membaca berbagai utas di media sosial tentang hubungan antarsaudara, kadang membuat saya bersyukur. Saudara-saudara saya, baik yang inti maupun sepupu, semuanya baik-baik saja. Nggak ada yang neko-neko. Semuanya hidup masing-masing tanpa saling mengganggu.

Low maintenance kalau kata anak sekarang.

Karena hubungannya juga baik, saya bisa sewaktu-waktu kontak tanpa harus merasa sungkan.

Setelah jadi orang tua, saya baru sadar kalau semua ini mungkin terjadi karena didikan eyang yang tidak pernah membeda-bedakan anak cucunya. Semuanya diperlakukan sama. Alias digalakin kalau perlu digalakin 😩

Saya masih ingat almarhum Pakde saya yang waktu itu sudah menjadi kolonel polisi diomelin eyang karena makan paha ayam kesukaan adiknya. Padahal Pakde saya, menurut Eyang, sukanya bagian dada.

Pakde hanya cengengesan saja waktu itu. Sepertinya saudara-saudari itu juga sudah lupa mereka suka potongan ayam apa, yang penting makan masakan ibunya.

Prinsip tidak membedakan anak ini sepertinya ditiru oleh Bapak saya dalam membesarkan anak-anaknya. Bapak pernah bilang kalau salah satu ketakutan terbesarnya adalah anaknya merasa dibedakan.

Sampai waktu adik saya SMA dan perekonomian keluarga saya lebih baik dari sebelumnya, Bapak pernah minta maaf karena adik saya dibelikan motor baru dan laptop, sementara sebelumnya, waktu SMA saya pakai motor butut dan sampai tingkat 3 kuliah pakai PC.

Karena saya don’t mind pakai motor butut dan PC, saya malah nggak pernah kepikiran kalau itu bisa bikin anak merasa dibedakan 😅

Karena melihat hasil dari prinsip yang baik ini (dan saya sudah melihat contoh keluarga lain yang tidak menerapkannya), sampai sekarang saya (dan suami) juga berusaha agar imbang kepada anak-anak kami. Sesuai porsinya dan sewajarnya saja.

Tidak Putus Silaturahmi

Saya punya kenangan yang kuat (mungkin bahkan terlalu kuat) tentang Lebaran karena keluarga Bapak saya. Bahkan saya ingat pernah ngambek sengambek ngambeknya kepada orang tua karena tahun itu kami Lebaran di Bandung, tempat keluarga Ibu saya, dan bukan di Boyolali.

Bukan keluarga Ibu yang salah, Lebaran di rumah Eyang memang terlalu menyenangkan sehingga bahkan kue-kue Lebaran lezat yang dimasak Embah, nenek dari ibu saya, tidak bisa menggantikannya.

Apalagi semenjak Eyang meninggal dan kami jadi tidak punya pilihan selain mudik ke Bandung, Lebaran jadi terasa “anyep”.

Sungguh betapa kangennya saya dengan suasana Lebaran di Boyolali saat Eyang masih ada. Alhasil, semenjak Eyang meninggal, saya tidak terlalu bersemangat untuk berkumpul dengan keluarga saat Lebaran. Padahal keluarga yang saya temui tidak pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan orak uwis-uwis yang bikin males kumpul-kumpul.

Sampai akhirnya saya menikah dengan suami yang keluarganya masih punya tradisi kuat untuk kumpul-kumpul. Bukan hanya Lebaran. Berbagai alasan dan acara membuat mereka berkumpul. Tidak hanya keluarga inti, sampai cucu, buyut, saudara 2 lapis juga masih rajin ikut serta.

Saking banyaknya orang kalau keluarga suami saya kumpul, sampai 14 tahun menikah juga saya masih nggak semua hafal hubungan kekerabatannya gimana.

Saking bingungnya pernah saya cium tangan seseorang padahal itu sebenarnya ponakan. Haha. Salah orang juga sering soalnya mukanya mirip-mirip.

Sampai pernah kaget waktu melihat orang yang katanya sudah meninggal masih menyendok soto dengan santai di antrian depan saya saat ada acara. Ternyata yang meninggal orang lain. Cuma saya yang selama ini salah memadankan nama dengan muka.

Anyway, melihat keluarga suami, jelas saya jadi punya keinginan untuk kumpul-kumpul keluarga saya juga. Supaya anak-anak saya tahu keluarga ibunya, apalagi kedua eyang mereka, orang tua saya, semua sudah tidak ada.

Walaupun jelas saya tak akan bisa menghapus masa lalu, tapi dengan mudah saya bisa menghilangkan dan melupakan jejak asal usul saya. Apalagi kalau menuruti jiwa milenial introvert saya yang jelas tidak terlalu suka bertemu orang kalau tidak perlu-perlu amat.

Karena dorongan suami dan keinginan yang sama dari beberapa sepupu untuk berkumpul, akhirnya semenjak beberapa tahun lalu, saya dan beberapa sepupu tersebut menyempatkan diri untuk silaturahmi ke rumah Bude saya yang paling tua di setiap hari Lebaran kedua atau ketiga.

Tentu saja suasananya tidak sama seperti yang dulu, tapi lumayanlah tombo kangen dan memperpanjang silaturahim. Makin tahun makin ramai karena semakin banyak yang bergabung.  Alhamdulillah. Memang deep down inside prinsip orang Indonesia “mangan orak mangan sing penting kumpul” sudah mendarah daging di nadi saya. Hanya sejenak saya melupakannya.

Penutup

Rumah di Regulo 70 masih berdiri tegak sampai sekarang. Masih sedia menyambut para penghuni lamanya kalau ada yang kangen untuk pulang. Walaupun rasanya sudah tak lagi sama, bahkan aromanya juga sudah berbeda, tapi rumah itu tetap menjadi monumen sejarah yang akan selalu saya ceritakan ke anak cucu saya kelak.

Hanya 15 tahun saya menikmati keseruannya, itupun mungkin hanya 5 tahun yang benar-benar saya ingat. Tapi sebagai sebuah tempat, ingatan tentang Regulo 70 tak lekang sepanjang masa. 


Read more ...

Sunday, November 30, 2025

Firasat atau Indera Keenam

Waktu saya kecil, saya memperhatikan Ibu saya seperti punya indera keenam. Dia bisa tau apa yang terjadi bahkan sebelum kejadian itu terjadi. Misalnya saat pusing tidak punya uang untuk suatu keperluan, dia akan tetiba sumringah sambil berkata : “Tunggu ya, sebentar lagi uangnya ada”. Kemudian besok atau lusa keperluan mendadak tersebut sudah bisa dipenuhi.

Kalau hal itu terjadi di zaman sekarang mungkin saya akan curiga Ibu saya pinjam ke tukang kredit online. Tapi karena sampai Ibu saya meninggal tidak pernah ada yang menagih hutang baik ke Bapak, saya, maupun adik saya, maka mari kita simpulkan saja bahwa Ibu saya memang dapat uang dari jalan yang lurus.

Ada lagi kejadian ketika suatu hari, Ibu saya, dengan berseri-berseri berkata bahwa saya sudah diterima di ITB, padahal saat itu kalau tidak salah pengumuman masih sekitar 3 hari lagi. Semua orang masih deg-degan tapi Ibu saya sudah merasa lega. Ketika pengumuman sesungguhnya muncul, dan saya benar-benar dinyatakan diterima di ITB, Ibu saya bilang: “ya kan, Ibu sudah tau”.

Ibu saya juga selalu tau hal yang disembunyikan orang, padahal baru kenal. Misalnya ada guru baru di sekolah tempatnya mengajar. Ibu saya bilang guru baru ini nampaknya menyimpan sesuatu cuma dia tidak tau apa. Beberapa bulan kemudian ketauan kalau guru ini ternyata sudah bercerai tapi dia tak melaporkan ke dinas agar masih bisa dapat tunjangan suami.

Sampai sekarang saya tidak pernah tau kenapa Ibu saya bisa tau. Mungkin dia sebetulnya ahli probabilitas dan sudah menghitung semua kemungkinan berdasarkan fakta dan data yang ada. Masalahnya kan itu tahun 2000-an awal, fakta dan data yang bisa dapat hanya dari koran Kompas dan Suara Merdeka yang kami langgan. Ada sih internet yang modemnya masih bunyi bip-bip-bip dan selalu bikin Bapak rungsing kalau digunakan karena ngefek ke tagihan telepon.

Cuma kayaknya Ibu saya nggak secanggih itu. Apa saya saja yang nggak tau? kan bisa jadi dia adalah agen BIN yang menyamar jadi Ibu-Ibu dan guru?

Anyhow, ketika saya sudah jadi Ibu-Ibu, sepertinya saya juga menuruni bakat Ibu. Entah bakat atau keberuntungan ya. Pokoknya masih di luar nalar. Ini saya ceritakan beberapa diantaranya.

Seringkali saya tau akan berurusan dengan suatu hal, padahal belum terjadi.

Misalnya saat macet di jalan, mata saya terpaku pada tempat service AC mobil, yang baru saya sadari lokasinya dekat dengan sekolah bocah. Tempat service AC itu tidak mencolok, tulisannya pun kecil sekali. Cuma entah kenapa saya memperhatikannya.

Waktu jemput bocah, tetiba ada Ibu murid yang kebingungan karena AC mobilnya rusak. Cuma kalau dia mau ke tempat langganannya jauh dari sekolah, mana harus lewat tol pula. Nggak sanggup dia harus kesana tanpa AC apalagi bawa bayi.

Seperti ada bola lampu menyala di kepala. Saya bilang ada tukang service AC di dekat sekolah. Tadi saya lihat papannya. Ibu itupun langsung menuju kesana. Sorenya dia mengirimkan WA mengucapkan terima kasih atas info yang saya berikan.

Kejadian-kejadian seperti itu jamak terjadi. Seperti saat saya tanpa sengaja memperhatikan papan warung penjual sambal tumpang di jalan yang saya lewati, lalu besoknya ada bude yang bilang ngidam sambal tumpang.

Atau ketika saya memperhatikan papan sebuah perusahaan produsen sepatu lalu beberapa hari kemudian ada dosen yang cerita kalau dia sedang cari perusahaan sepatu untuk objek penelitiannya. 

Kadang tidak hanya papan penunjuk bisnis. Iklan di internet atau bahkan acara televisi lokal juga bisa jadi kebetulan. Saking canggihnya teknologi saat ini, algoritma memang bisa muncul ketika kita membicarakan atau bahkan sesederhana memikirkan suatu hal. Jadi saya tidak begitu heran untuk iklan internet. Cuma acara televisi kan tidak bisa kita atur ya.

Maka ketika saya bisa memberitahu tante saya tentang pembuat taman vertikal yang entah kenapa saya tonton wawancaranya saat muncul di televisi, atau ketika saya klik info lebih lanjut tentang Corfu yang muncul di wallpaper live komputer kantor saya, kemudian beberapa hari kemudian tanpa sengaja bertemu kenalan baru yang baru pulang dari Corfu, saya merasa hal-hal tersebut sudah di luar nalar.

Seringkali Seperti Semesta Membantu Saya Memahami Sesuatu

Sebagai sampingan, kadang saya membantu dosen untuk melakukan kajian. Karena dasar bidang keilmuan kami di Teknik Industri, kajian yang dilaksanakan topiknya bisa bermacam-macam. Dari yang nyambung hingga tak nyambung. Dari yang familiar hingga yang awam.

Kalau saya sedang disuruh belajar sesuatu, seringkali seperti semesta memberikan informasi dari lokasi tak terduga.

Seperti misalnya saat saya tetiba harus belajar mengenai struktur rangka baja tahan gempa. Setelah mencoba membaca berbagai materi di internet lalu sedang bingung mau bertanya pada siapa, tetiba ada permintaan dari dosen untuk mengundang dosen tamu yang ternyata peneliti struktur bangunan untuk gempa. Saya bisa sit in di kelasnya.

Kemudian beberapa hari setelahnya ndilalah saya diundang ke orasi guru besar yang salah satunya ternyata mengenai inovasi struktur baja tahan gempa. Di salah satu slide yang ditampilkan ada penjelasan mengenai hal-hal yang jadi pertanyaan saya.

Lebih kebetulan lagi saat saya menyelamati salah seorang saudara jauh yang baru saja punya cucu, tetiba dari obrolan saya dapat info kalau menantunya sedang S3 dengan bidang struktur bangunan baja dan saya tentu saja diperbolehkan kontak dia untuk tanya-tanya.

Paling ultimate adalah beberapa saat kemudian saya diajak untuk ikut kunjungan lapangan ke perusahaan yang sedang mengembangkan produk baja tahan gempa. Padahal saya tidak pernah diajak kunjungan lapangan. Plus yang mengajak ini tidak punya kaitan dengan kajian yang saya sedang terlibat di dalamnya.

Hal seperti ini tidak sekali dua kali terjadi di hidup saya. Dari pertama saya bekerja sampai sekarang. Kalau bukan diluar nalar, apa dong namanya?

Tau cerita lengkap padahal nggak nyari-nyari.

Entah kenapa orang banyak yang suka tiba-tiba cerita apapun sama saya. Padahal saya nggak nanya. Mungkin tampang saya memang curhatable. Atau saya memang enak diajak ngobrol. Entahlah.

Jadi bisa nih saya lagi asyik membuat surat permohonan penebangan pohon, tetiba ada si A yang datang lalu curhat tentang kambing yang dia pelihara susah melahirkan. Hal-hal nggak nyambung gitu lah.

Tapi seperti pepatah ada hikmah di setiap kejadian, biasanya nanti saya akan mendapatkan perspektif lain mengenai cerita yang disampaikan ke saya.

Misal soal kambing melahirkan itu, biasanya nanti ada yang curhat lagi ke saya, kenapa si A keliatan murung sekali, jadi suasananya nggak enak setiap ketemu. Nah saya jadi bisa bilang kalau si A kambingnya lagi susah melahirkan makanya dia jadi nggak mood ngobrol.

Akhirnya orang yang nanya dapat pencerahan. Karena hal-hal ini di kantor saya malah jadi semacam hub gosip. Sampai-sampai tiap saya ketemu orang-orang yang ditanya pertama kali: “ada gosip apa?”. Harus haha atau huhu ini sodara-sodara?.

Cuma karena saya dapat ceritanya langsung dari asalnya, nggak gosip gosip amatlah (pembenaran).

Cukup bisa membaca orang

Seperti Ibu saya, ternyata saya juga cukup mahir membaca “orang”. Saya bisa tau mana orang yang tulus, mana yang manipulatif, mana yang beneran baik, mana yang cuma pura-pura. Apakah pengetahuan itu berguna bagi saya? Nggak juga sih, soalnya ke semua orang (kecuali beberapa orang terdekat), saya biasa saja.

Nggak pernah terlalu dimasukkan ke hati.

Tapi dengan kemampuan ini saya pernah menggagalkan percobaan penipuan oleh orang yang berusaha menjual rumah mertua saya dengan harga sangat murah dibawah harga pasar. Hanya karena saya lihat orangnya "berperilaku aneh". Berbagai kejadian sebelumnya, seperti mengurus penjualan rumah waris orang tua saya dan mengobrol dengan teman yang punya start up jual beli rumah, membuat saya yakin bahwa saya memang "dipersiapkan" untuk menggagalkan penipuan tersebut.

Terkait hal ini suami saya sering mengingatkan supaya saya nggak terlalu sering suudzon sama orang. Kadang memang beda-beda tipis sih antara curiga berlebihan dan memang benar-benar punya feeling mengenai seseorang. Haha.

Lalu seperti ibu saya, feeling saya ternyata juga kuat soal persoalan hidup. Jadi misalnya saya sedang mengalami kesusahan apapun. Kalau hati saya rasanya nggak enak banget dan suasana di sekitar saya jadi terasa remang-remang, biasanya masalah itu cukup berat dan perlu kesabaran extra. Tapi kalau hati saya plong dan pikiran saya masih tetap jernih, dalam waktu dekat selalu ada jalan keluar untuk masalah yang saya hadapi seberapapun rumitnya.

Kadang saya jadi takut sendiri. Jangan-jangan ada hal-hal ghaib yang berpengaruh tanpa saya sadari. Tapi ya sudah karena saya menganggap semuanya kebetulan dan keberuntungan saja, semoga memang begitu adanya.

Dari semua hal diatas adakah yang pernah mengalami hal yang sama? Kalau banyak, berarti sebenarnya memang ada tanda-tanda di sekeliling yang bisa dibaca. Hanya sensitif atau tidaknya tergantung masing-masing orang.

Wallahualam.

Ditulis untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gakah Ngeblog Bulan November 2025 dengan Tema Diluar Logika.



Read more ...

Saturday, October 25, 2025

Shy, Steve, dan Kesempatan Terakhir

Tentang Shy, Steve, dan Last Chance

Kepala Shy selalu penuh. Berbagai pikiran tak henti berseliweran. Saling silang seperti pita yang kusut. Pikiran-pikiran itu dan rasa ingin tahunya yang tinggi, tak jarang mendorong Shy melakukan hal-hal yang impulsif. Tidak selalu buruk, tapi kebanyakan tidak bisa diterima begitu saja oleh sekitarnya.

Di lingkungan yang lebih suportif, remaja berusia 16 tahun tersebut mungkin akan dianggap sebagai anak berbakat (gifted atau wild child). Sesuatu yang diapresiasi sebagai sebuah kelebihan. Tapi di tempatnya tumbuh besar, di Inggris era 90-an, Shy lebih sering dianggap tidak normal.

Tapi apa itu normal? Ketika normal sendiri adalah suatu spektrum. Sayangnya normal punya makna yang sempit untuk orang-orang di sekitar Shy. Maka remaja itu tumbuh dengan rasa bersalah karena tidak pernah memenuhi definisi normal di lingkungannya. Terutama terhadap ibu dan ayah tirinya karena selalu merepotkan mereka dengan masalah yang ditimbulkannya.

Rasa bersalah yang menumpuk bermanifestasi menjadi kemarahan yang semakin lama tidak dapat dikendalikan.

Shy menghancurkan rumah kerabatnya, menusuk jari tangan ayah tirinya, mematahkan kaki teman wanitanya, memukul kepala anak sekolah lain sampai bocor, serta segala kekacauan lainnya. Kejadian-kejadian ini yang membuatnya berada di Last Chance (Stanton Wood). Sebuah sekolah berasrama khusus untuk rehabilitasi remaja yang memiliki masalah perilaku.

Dibiayai oleh pemerintah, Last Chance diharapkan mampu mengubah anak-anak muda yang dianggap sebagai “sampah masyarakat” menjadi seseorang yang setidaknya tidak mengganggu kehidupan publik. Syukur-syukur bisa bermanfaat.

Murid-murid dengan impuls tinggi dan kurang kontrol emosi membuat kehidupan sehari-hari di Last Chance dipenuhi oleh keributan, perkelahian, dan secara umum kekacauan. Dengan kondisi yang demikian memang hanya guru-guru dengan kesabaran selevel malaikat yang sanggup mengajar di Last Chance. Orang-orang dewasa yang secara tulus mencoba memahami murid-murid di Last Chance dengan segala karakteristik dan permasalahannya.

Bagaimanapun tidak idealnya kondisinya, guru-guru di Last Chance berjuang setiap hari untuk mengobati luka hati para muridnya. Dalam setiap kesempatan mereka menyampaikan pesan bahwa remaja-remaja itu tidak sendirian, bahwa apa yang terjadi dalam hidup mereka bukan semata kesalahan mereka, dan bahwa mereka masih punya kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Alhasil, di tengah dunia yang sepakat tidak bersedia menerima mereka, Last Chance, menjadi rumah bagi Shy dan teman-temannya.

Pimpinan guru di Last Chance adalah seorang guru bernama Steve. Dibalik ketenangannya dalam menghadapi persoalan murid-muridnya, Steve menyimpan rahasia yang sebetulnya telah diketahui rekan-rekan sejawatnya. Pria itu memiliki adiksi terhadap obat penenang dan minuman keras. Konon kecelakaan mobil yang dialaminya tiga tahun lalu masih membuatnya trauma.

Di balik perjuangan dengan adiksinya, Last Chance menjadi semacam obsesi bagi Steve. Pria itu mencurahkan jiwa dan raganya di tempat tersebut untuk “menyelamatkan” hidup murid-muridnya.

Maka ketika beredar kabar bahwa Last Chance akan ditutup selamanya, Shy dan Steve tidak dapat menerimanya dengan lapang dada.

Kisah Dalam Dua Format

Kisah Shy, Last Chance, dan Steve merupakan karya asli penulis sekaligus penyair berkebangsaan Inggris bernama Max Porter. Cerita ini ditampilkan dalam 2 buah karya dengan format dan sudut pandang yang berbeda.

Pemikiran Shy mengenai diri dan kehidupannya dituangkan dalam novel pendek berjudul “Shy” yang terbit pada tahun 2023. Sementara sudut pandang Steve sebagai guru di Last Chance disampaikan dalam film Netflix berjudul “Steve” yang tayang di tahun 2025.

Max Porter sendiri turun tangan menggarap naskah Steve berdasarkan dorongan dari Cillian Murphy yang merupakan temannya. Oleh karena itu perbedaan sudut pandang dari adaptasi Shy ke Steve dalam  medium berbeda tersebut cukup halus. Tidak terasa tumpang tindih. Saling melengkapi bukan menggantikan.

Tentang Novel Shy

Sebelum menonton filmnya, terlebih dahulu saya membaca novelnya. Plot dalam novel Shy dituliskan bolak balik antara masa lalu dan masa kini. Isinya menggambarkan kalimat-kalimat yang muncul di kepala Shy. Persis hingga titik koma dan intensitasnya.

Kesalahan tulis menjadi kesengajaan untuk menggambarkan kekacauan pikiran. Kalimat panjang tanpa jeda menunjukkan pikiran yang menggebu-gebu. Sementara besar kecil ukuran huruf memperlihatkan ingatan: suara-suara samar Ibu yang menasehatinya, suara tenang guru yang mencoba menggali perasaannya, suara lengkingan teman-teman sekolah yang merundungnya.

Tujuh per delapan novel Shy menceritakan pikiran-pikiran yang muncul dalam kepala Shy selama perjalanan dari sekolah hingga ke sebuah danau tempatnya berencana untuk mengakhiri hidup. Sementara sisanya menceritakan apa yang membuatnya berubah pikiran. Shy memang ingin mati, tapi dia lebih penasaran pada apa yang akan terjadi pada dirinya.

Hal ini yang menyelamatkan hidupnya. 

Saya cukup kesulitan membaca novel Shy. Karena selain ditulis dalam banyak kiasan bahasa Inggris yang kurang bisa saya mengerti, ada banyak penggambaran yang tidak bisa langsung saya bayangkan sekali baca karena kurang paham dengan konteksnya.

Membuat saya menghabiskan waktu cukup lama untuk menghabiskan novelnya. Padahal  panjangnya hanya 128 halaman.

Meskipun tidak selalu paham, tapi ada satu hal yang dapat saya tangkap dengan baik dari novel tersebut: kebingungan Shy menghadapi emosinya sendiri. 

Kebingungan yang seringkali berubah menjadi kemarahan yang tak terkendali.

Tentang Film Steve

Kemarahan yang timbul karena kemampuan regulasi emosi yang rendah ini juga menjadi cerita sentral dalam film Steve. Di film garapan sutradara Tim Mielants ini, setengah adegannya menggambarkan remaja-remaja yang mudah terpantik dengan situasi sekitar dan tidak memiliki referensi cara untuk menghadapi emosi yang dialaminya. 
Ledakan kemarahan juga dirasakan oleh Steve yang ternyata memiliki masalah regulasi emosi yang mirip dengan murid-muridnya. Perbedaan Steve dengan murid-muridnya adalah guru tersebut dengan sadar memilih untuk meluapkan rasa marah walaupun punya kemampuan untuk menahannya. Sementara murid-muridnya memang tidak punya kemampuan untuk menahan kemarahan yang meluap.

Mereka bahkan tidak tau kenapa mereka marah.

Berbeda dengan bukunya, saya menghabiskan film Steve sekali duduk. Seperti kebanyakan film Netflix, durasi Steve cukup pendek. Hanya sekitar 90 menit. Cerita film ini berputar pada satu hari yang kacau di Stanton Woods. Saat itu beberapa peristiwa terjadi bersamaan di sekolah yang berada di daerah antah berantah  Inggris Raya tersebut.

Steve dan para guru mendengar langsung dari perwakilan pemerintah mengenai keputusan untuk menutup Last Chance dalam kurun waktu 6 bulan, serombongan kru film dokumenter tanpa empati mencoba mengabadikan keseharian di Stanton Woods, dan Shy mendengar kabar kalau ibu dan ayah tirinya memutuskan untuk tidak akan lagi berurusan dengannya.


Dihadapkan pada situasi yang rumit, Steve dan Shy sama-sama kehilangan kendali atas dirinya. Pikiran mengenai kelanjutan hidup murid-muridnya dan rasa putus asa menghadapi keadaan membuat Steve menenggak pil penahan rasa sakit dan minuman keras di setiap kesempatan. Sementara Shy yang seperti mendapat vonis kalau tidak ada yang bersedia menerimanya, memutuskan untuk tidak lagi mendengarkan siapa-siapa dan bertekad mengakhiri hidupnya.

Beda Shy dan Steve

Berbeda dengan bukunya, saya tak terlalu kesulitan mengikuti jalan cerita filmnya. Membandingkan pengalaman membaca dan menonton kisah tersebut, saya menyimpulkan ada beberapa perbedaan motif tokoh utama yang saya sadari cukup membuat kedua karya tersebut memiliki pesan dan makna berbeda. Padahal keduanya ada di semesta yang sama.

Di novel, konflik utama Shy ada pada ketidakmampuannya untuk bisa memahami dirinya sendiri dan ketidakmampuan orang di lingkungan lamanya untuk membantunya. Sementara di film, konflik Shy lebih disebabkan oleh faktor eksternal yaitu keengganan orang lain, termasuk orang tuanya sendiri, untuk terlibat dengannya.

Itu sebabnya inti utama dari novel Shy adalah menyelamatkan Shy dari dirinya sendiri sementara di film Steve, sosok Shy tergambarkan lebih sebagai korban dari keadaan. 

Dengan demikian konflik di filmnya terasa lebih mainstream, apalagi untuk saya yang penggemar drama Korea. Dimana konflik seperti ini biasa jadi sajian utama cerita. Sementara konflik di novelnya lebih terasa dalam karena melibatkan pemahaman terhadap karakter Shy sendiri dan situasi di sekitarnya.
Karakter Shy sendiri cukup berbeda antara di novel dan di film. Di film, Shy adalah anak yang terkesan pemurung dan menutup diri. Telinganya selalu tertutup headphone dengan musik berdetam yang menggelegar. Sementara di bukunya, persepsi saya terhadap Shy adalah anak yang sebenarnya cukup perasa. Dengan segala kerumitan pikirannya Shy punya kesadaran akan tindakan-tindakan yang dia lakukan. Meskipun kesadaran tersebut datangnya lebih sering terlambat.

Sementara karakter Steve sendiri tidak begitu banyak disebutkan novel. Jadi saya tidak bisa membuat perbandingan. Di filmnya, karakter minor ini berubah menjadi tokoh utama yang sangat signifikan dalam cerita.

Karakter Steve sebetulnya tidak terlalu rumit untuk dipahami. Seorang pria yang tulus dan berdedikasi tapi tidak punya cukup kepercayaan diri untuk tidak terpengaruh dengan kondisi di sekitarnya. Steve berkali-kali harus mengafirmasi dirinya sendiri lewat ucapan yang direkam dengan perekam suara. Sepertinya supaya dia bisa mengingat hal-hal yang menjadi tujuannya di tengah-tengah kemelut pikirannya.

Steve sendiri juga sepertinya tidak memiliki mekanisme untuk menenangkan diri sendiri. Hal ini sepertinya yang menjadi pemicu adiksinya. Ketenangan sesaat yang mungkin dia rasakan saat harus mengonsumsi pil penahan sakit menjadi jalan ninjanya untuk bisa berpikir jernih. 

Sosok Steve sebetulnya juga rentan menjadi mainstream, tapi dengan aktor sekaliber Cillian Murphy sebagai pemerannya, tokoh Steve tetap  menjelma menjadi sosok yang terasa lebih kompleks daripada sekedar orang baik dengan kebiasaan yang kelam.  

Cillian memerankan Steve dengan empati yang dalam terhadap karakternya. Bagi peraih Oscar untuk pemeran utama pria terbaik tahun 2025 ini, sosok Steve sangat dekat dengannya. Sebagai anak dari pasangan guru, Cillian menyaksikan sendiri dinamika kehidupan orang tuanya di dunia pendidikan. Tugas berat yang seringkali tidak diimbangi dengan imbalan dan penghargaan yang pantas.

Jika harus membandingkan lagi antara novel dan filmnya, cerita film Steve memang tak sekuat novel Shy. Bahkan di beberapa aspek ceritanya malah terasa agak dibuat-buat supaya dramatis. Apalagi dengan permainan kamera di beberapa adegan yang cukup membingungkan. Seperti penggunaan drone  yang tiba-tiba saat adegan klimaks untuk menggambarkan kekacauan.  

Karena cerita filmnya yang agak kurang menggigit, nyawa film Steve memang ada pada penampilan para pemerannya yang brilian. Terutama para pemeran murid-murod di Stanton Wood. Pemilihan aktor-aktor pendatang baru sepertinya disengaja untuk memberikan nuansa segar pada penggambaran remaja-remaja yang feral. Sementara aktor aktor veteran seperti Tracey Ullman dan Emily Watson mengimbangi dengan akting yang matang.


Shy dan Steve Sebagai Pengingat

Kisah Shy, Steve, dan Last Chance mungkin terjadi di tempat yang lokasinya ribuan kilometer dari Indonesia. Begitupun dengan waktu yang sudah berbeda 30 tahun dari periode di cerita. Akan tetapi untuk saya, emosi yang dirasakan para tokoh di film itu sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini: remaja-remaja yg kehilangan arah, emosi-emosi yang tak terbendung, dan kemarahan-kemarahan yang berlebihan.

Film Steve atau novel Shy tentu saja tidak akan pernah menjadi populer di Indonesia. Ketika masih jauh masyarakat kita mampu menerima tontonan yang perlu pemikiran. Padahal dari kisah-kisah seperti ini kita bisa menarik banyak pembelajaran. Apalagi untuk orang-orang yang diberikan amanah luar biasa sebagai orang tua. 

Dari pengalaman membaca dan menonton kisah ini saya sendiri jadi diingatkan kalau pemberian terbaik bagi anak-anak adalah lingkungan yang menerima mereka apa adanya dan mendukung mereka untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Versi terbaik yang tidak didefinisikan oleh orang lain tapi oleh mereka sendiri. Apapun suratan takdir yang harus mereka jalani kedepannya. 

Dari kisah Shy dan Steve saya juga belajar bahwa definisi bahagia masing-masing orang berbeda-beda. Untuk Steve dan Shy menjalani hari-hari tanpa kegaduhan sudah merupakan anugerah luar biasa. Kehidupan biasa yang mungkin buat kita membosankan, adalah impian buat mereka yang masih harus berjuang untuk sedikit saja memperoleh ketenangan dalam ketidaknormalan kondisinya. 

Ditulis dalam rangka Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Oktober 2025 dengan Tema Menyelami Orisinalitas dalam Adaptasi Karya Lintas Medium.







Read more ...

Thursday, September 25, 2025

Romantisme Lagu Perjuangan (Pilih Sendiri Kisahmu)

Bau apak menyergap hidungku saat membongkar lemari eyang uyut. Berbagai barang berjejalan di dalamnya. Berlapis debu yang lekatkan aroma masa lalu, seolah menolak dilupakan. 

Eyang uyut meninggal di usianya yang ke-102 tahun seminggu yang lalu. Sekarang ibuku, sebagai pewaris tunggal wanita itu, menjadi pemilik sah dari rumah beserta seluruh isinya. Sebuah rumah luas dengan gaya 60 an yang masih kokoh berdiri.

Aku tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membantunya membereskan barang-barang di rumah megah itu. 

Sebagai penggemar barang antik, aku selalu terpikat dengan benda-benda tua. Rasanya seperti membaca buku sejarah, hanya saja lewat wujud nyata yang bisa kugenggam, kunikmati, dan kuimajinasikan.

Tanganku menyibak tumpukan kain batik yang warnanya mulai pudar, kotak kayu kecil dengan ukiran yang nyaris terhapus, hingga setumpuk majalah lawas yang kertasnya sudah menguning dan rapuh di tepinya.

Ada juga kaca mata bulat dengan gagang besi tipis, botol parfum kecil dengan sisa cairan berwarna kuning pucat di dalamnya, dan buku catatan harian dengan kunci mungil yang sudah berkarat.

Setiap benda seakan berbicara, menyampaikan sepotong kisah yang pernah dijalani pemiliknya.

Lalu mataku berhenti pada sebuah benda yang tak pernah kulihat sebelumnya: sebuah radio tua dengan bodi kayu cokelat gelap.

Permukaannya penuh goresan, kenopnya kusam, dan kain pelindung speakernya sobek di beberapa bagian.

Namun entah mengapa, ada sesuatu yang membuatku tergelitik untuk mencoba menyalakannya.

Seolah benda itu menyimpan rahasia yang menunggu untuk ditemukan, rahasia yang hanya bisa terbuka bagi seseorang yang cukup sabar untuk mendengarkan.

Dengan hati-hati, aku membalik radio tersebut, mencoba mencari tahu bagaimana cara menyalakannya.

Aku memeriksa bagian belakang, memutae beberapa kenop, tetapi tak menemukan apa-apa yang bisa membuatnya menyala. 

Karena tak bisa menemukan yang kucari, kuletakkan kembali radio tersebut di pinggir jendela kamar eyang, membiarkannya diterpa cahaya sore yang menyorot dari sela tirai tua.

Beberapa lama aku melupakannya. Kesibukan memilah barang membuat perhatianku teralihkan.

Namun ketika tiba saatnya memutuskan barang-barang mana yang hendak dibuang dan mana yang harus dipertahankan, aku kembali teringat pada radio tua itu.

Ada dorongan aneh yang membuatku enggan menyingkirkannya. Rasa penasaran menempel kuat, seolah radio itu berbisik agar tetap kusimpan.

Aku tak tega melepasnya begitu saja. Seperti ada kenangan besar yang melingkupinya, kenangan yang belum terungkap sepenuhnya.

Kubawa radio itu pulang. Di rumah, rasa ingin tahuku semakin membuncah. Aku membongkarnya perlahan, membersihkan debu yang menumpuk di sela-sela komponennya, lalu mulai mengutak-atik rangkaiannya.

Untunglah, tak percuma aku pernah belajar elektronika selama tiga tahun lamanya. Dengan sedikit modifikasi dan tambahan mekanisme modern, akhirnya radio itu bisa kembali bernapas.

Dengan hati-hati, kucolokkan kabel radio itu ke stop kontak. Listrik mengalir, lampu kecil di dalamnya menyala redup, dan suara berdesis memenuhi ruangan.

Aku memutar-mutar kenop, mencari siaran yang mungkin masih bisa ditangkap. Sampai tiba-tiba, alunan musik lawas mengalir, jernih meski diselingi bunyi kresek halus.

Lagu itu lagu kukenal yang sering digumamkan eyang uyut. Melodi dan liriknya yang familiar seakan mengirim getaran hangat ke dadaku. Bagai sapaan lembut dari masa yang jauh tertinggal.

Suara yang keluar dari radio itu klasik, penuh keromantisan tempo dulu. Seolah-olah waktu berhenti, membiarkanku larut dalam arusnya.

Sejak saat itu, radio tua tersebut tak lagi kuanggap sekadar benda usang. Kini ia kusimpan di kamarku, tepat di sudut meja kayu dekat jendela.

Setiap kali aku memandanginya, ada rasa takjub sekaligus haru, seakan aku sedang menjaga peninggalan yang lebih dari sekadar harta benda.

Radio ini adalah jembatan, penghubung antara masa kini dan masa lalu yang tak pernah benar-benar lenyap.

Dan ada satu hal aneh yang kusadari. Sejak radio itu kutaruh di kamar, setiap malam aku selalu bermimpi. 

Bukan mimpi biasa—melainkan mimpi yang begitu nyata, seperti aku benar-benar hidup di dalamnya. Sampai berapa lama, baru aku menyadari.

Melalui radio itu aku menyaksikan sendiri kisah kedua eyang uyutku, di berbagai masa mereka berada.

(Bersambung)

1. Untuk mendengar kisah Sepasang Mata Bola
2. Untuk mendengar kisah Halo-Halo Bandung
3. Untuk mendengar kisah Jembatan Merah


Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan September dengan Topik Romantisme.


Read more ...